Hubungan cinta tidak selamanya berjalan mulus. Ada yang sukses
hingga ke jenjang pernikahan dan kemudian membuahkan anak. Namun lebih
banyak hubungan cinta yang berakhir prematur dengan kedua pihak kembali
menjalankan kehidupan lajangnya masing-masing. Ada yang berakhir
baik-baik dengan keduanya saling mengucapkan terima kasih dan masih
menjadi teman dekat. Ada pula yang berakhir tidak baik dengan keduanya
saling mengucapkan sumpah serapah dan berurai air mata. Bagaimanapun
juga, hubungan cinta yang kandas pasti sedikit banyak menimbulkan
penderitaan bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Pihak mana
sebenarnya yang paling menderita akibat putus cinta?
Prialah
yang sebenarnya paling menderita, menurut saya.banyak anggapan umum
bahwa pria lebih tegar daripada wanita dalam menghadapi putusnya
hubungan percintaan. Apa saja alasannya?
Pria
Menyembunyikan Perasaannya. Ketika seorang pria diputuskan oleh
pasangannya, biasanya ia akan sesumbar: Biar saja, life still goes on.
Caranya? 26% pria yang mengisi survei online Men's Health melakukannya
dengan minum-minum bersama teman-temannya. 36% pria akan menatap mantan
pacarnya, tersenyum, dan mengucapkan terimakasih. Faktanya, kedua hal
tersebut dilakukan pria untuk menutup-nutupi perasaannya. Ini adalah
reaksi yang alamiah; gender pria dikondisikan masyarakat untuk tidak
gampang menunjukkan perasaan, apalagi perasaan yang membuatnya terlihat
lebih lemah. Namun represi ini juga berakibat sulitnya menghilangkan
perasaan terluka, marah, atau sedih dari dirinya. Sebaliknya, wanita
yang putus cinta biasanya langsung menangis (atau mengekspresikan
emosinya) saat itu juga, dan wanita juga cenderung lebih to-the-point
ketika mengakhiri hubungan cinta. Akhirnya mereka akan lebih cepat
menghilangkan perasaan-perasaan negatif itu dibandingkan pria.
Pria
Punya Lebih Sedikit Teman Curhat. Salah satu alasan mengapa wanita
lebih cepat pulih dari penderitaan pasca putus cinta daripada pria
adalah karena wanita memiliki lebih banyak teman yang bisa diandalkan
untuk bercerita. Penelitian menunjukkan bahwa pria mengandalkan hubungan
cinta untuk mendapatkan kedekatan emosional dan dukungan sosial,
sementara wanita bisa mendapatkan hal yang sama dengan keluarga dan
teman sesama wanita. Begitu wanita mengalami putus cinta, ia akan
bercerita kepada siapa saja, kalau perlu kepada orang yang tidak dikenal
yang duduk di sebelahnya di bis umum, agar perasaannya bisa lebih enak.
Pria, di sisi lain, cenderung lebih enggan membuka diri untuk soal ini.
Mungkin baru beberapa bulan kemudian, ketika dalam keadaan setengah
teler, baru ia berani bercerita kepada teman-teman prianya mengenai
betapa inginnya ia kembali lagi dengan si mantan.
Pria
Tidak Suka Memulai Dari Awal Lagi. Setelah putus cinta, pada awalnya
pria mungkin akan merasa semangat membayangkan wanita-wanita yang akan
ia kencani di masa depan. Namun setelah kencan yang keempat, kesembilan,
atau ketigabelas kalinya, barulah ia sadar kalau dibutuhkan usaha keras
dan waktu yang panjang untuk sampai pada tingkat keintiman yang pernah
ia alami bersama mantannya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa wanita
lebih mampu menyesuaikan diri ketika hubungan berakhir karena sebelumnya
mereka sudah memikirkan adanya kemungkinan itu, sementara pria biasanya
lebih tidak siap dengan putus cinta. Perasaan nyaman secara emosional
membuat pria merasa beruntung bisa memiliki seseorang seperti dia.
Sayangnya, hal ini seringkali baru disadari ketika si dia sudah berubah
status menjadi mantan pacar.
Gambaran Pacaran Pria Yang
(Terlalu) Ideal. Banyak kasus putus cinta merupakan reaksi sesaat atas
apa yang dirasa sebagai kebosanan; bosan dengan aktivitas, pembicaraan,
dan pertengkaran yang itu-itu saja. Kalau kembali melajang, pria mungkin
merasa ia akan menjalani hidup yang lebih menarik; tanpa komitmen,
bebas pergi ke mana saja, dan bebas bergaul dengan wanita-wanita yang
bisa dijadikan pacar baru. Barulah ketika benar-benar melajang ia sadar
bahwa hidupnya tidak menjadi seperti itu, bahkan sekarang waktunya
tersita oleh pekerjaan. Ia pun kembali merindukan keintiman yang dia
alami pada masa pacaran dulu. Penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih
tinggi skornya daripada pria dalam hal keintiman sosial, seksual, dan
intelektual. Dan biasanya wanita juga lebih cepat menyadari bahwa
keintiman adalah dasar dari hubungan yang tahan lama, dan bukannya
sekedar variasi aktivitas.
beberapa penelitian
menunjukkan bahwa pria lebih rentan mengalami stres, depresi, dan
kecemasan ketika putus cinta dibandingkan dengan wanita. Bagaimana
pendapat anda? Apakah anda memiliki pengalaman yang membenarkan atau
menyangkal pendapat ini?
Source :
Read More → Pria lebih menderita karena putus CINTA